Pages

Tuesday, April 5, 2016

DARI MATA TURUN KE HATI

Mata..
Kata orang cinta itu awalnya dari mata, lalu ia turun ke hati. Tapi, untuk sekarang kita tidak bicarakan cinta dulu ya.

Allah menganugerahi mata kepada kita untuk melihat. Melihat segala ciptaan-Nya Yang Maha Besar.

Dengan mata kita bisa melihat keindahan alam
Dengan mata kita bisa melihat fisik sempurna kita
Dengan mata kita bisa melihat berbagai macam warna
Dengan mata kita bisa melihat orang-orang yg kita cintai
Dengan mata kita juga mampu merasa.


Maka, sudah sepatutnya kita mensyukuri nikmat tersebut, karena masih banyak saudara kita yang tidak bisa merasakan nikmat itu. Namun, dengan mata pula kita sering terperdaya dengan kepalsuan dunia.

Dengan mata, kita bisa melihat berlimpahnya kekayaan seseorang
Dengan mata, kita bisa melihat megahnya rumah seseorang
Dengan mata, kita bisa melihat pakaian seseorang
Dengan mata, kita bisa melihat tingkatan seseorang.


Maka, kalau kita tidak kuat terhadap kilauan-kilauan tersebut. Ia bisa turun dari mata lalu ke hati menjadi suatu penyakit. Mari kita namakan ia si iri hati. Lalu ia berubah menjadi dengki (hasad).
Susah jika orang lain senang. Senang jika orang lain susah. Bahkan dengki ini sangat berharap hilangnya nikmat seseorang dan kenikmatan tersebut dapat berpindah kepadanya.

Ibnu Taimiyah mengatakan “Hasad adalah sekadar benci dan tidak suka terhadap kebaikan yang ada pada orang lain yang ia lihat.”

Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah oleh kamu sekalian sikap hasad (dengki), karena sesungguhnya sikap hasad itu memakan (menghabiskan) kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan (menghabiskan) kayu bakar“. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

“Janganlah kamu sekalian saling iri, saling membenci, saling memata-matai, saling membukakan ‘aib, saling tipu, dan saling menjatuhkan, tapi jadilah kamu sekalian hamba Allah yang bersaudara“.
(HR. Muslim dari Abu Hurairah).


Yah terkadang mata ini kita gunakan untuk mentafakuri segala ciptaan-Nya. Untuk mengagungkan segala ciptaan-Nya Yang Maha Besar. Untuk mensyukuri atas segala nikmat-Nya.
Tapi terkadang, kepalsuan dunia ini mampu menyilaukan mata ini. Bagi siapa yang tidak kuat, maka akan terjangkit penyakit hati itu.

Mari pejamkan mata kita sejenak. Hiraukan segala apa yang dimiliki orang lain. Belum tentu orang lain memiliki apa yang dimiliki oleh kita bukan? Maka bersyukurlah.

Tahukah kita? Diri kita dan apapun yang kita miliki adalah hal yang paling baik untuk kita. Bukan untuk orang lain. Apa yang dimiliki orang lain, itu yang terbaik untuk mereka. Bukan untuk kita. Seandainya kita paham konsep kecil ini, kita tidak perlu iri hati. Sayangnya, diantara kita saling membandingkan. Lalu menyakiti diri sendiri. (Kurniawan Gunadi – Mencari Tahu) 



Notes:
Tulisan ini pernah dipublikasikan di Berita Online Islampos tanggal 10 Oktober 2014
https://www.islampos.com/dari-mata-turun-ke-hati-138549/